Showing posts with label AISEI Februari 2021 Challenge Menulis. Show all posts
Showing posts with label AISEI Februari 2021 Challenge Menulis. Show all posts

Sunday, 28 February 2021

"Manusya Mriga Satwa Sewaka"

Oleh: Erry Yulia Siahaan 

https://twitter.com/kshitiz_m/status/1365151395058356230 









This is how love can also be stated.

Hewan juga butuh kasih sayang. Hewan bisa kesepian. Ketika diberi  perhatian, hewan menunjukkan respon penanda hatinya senang. Kira-kira itulah yang bisa kita simpulkan dari tayangan melalui twitter milik kshitiz mahajan tentang terobosan di Jerman. Tayangan yang dilepas pada 26 Februari 2021 ini langsung mendapatkan perhatian. Tidak hanya di kalangan pecinta fauna, tetapi juga masyarakat awam. Apalagi, dokter hewan, yang makin percaya pada semboyan "Manusya Mriga Satwa Sewaka" (“Menciptakan Kesejahteraan Masyarakat melalui Kesejahteraan Hewan).

Dikisahkan, selama pandemi, satwa di kebun binatang di Jerman merasa kesepian. Mereka tertekan karena tidak ada yang mengunjungi. Kemudian Otoritas Kebun Binatang mengundang seorang pianis dari Koln, Thelonious Herrmann, untuk menggelar konser. Sebuah ide yang tidak biasa, kata Herrmann. Dengan pianonya yang bisa ditarik berkeliling Kebun Binatang Cologne, Herrmann dengan lincah memainkan irama ceria dengan alat musiknya. Gubahannya sendiri. Nada-nada menghibur itu bertaburan di antara komunitas kambing, monyet, jerapah, penguin, anjing laut, dan sebagainya. Dalam video berdurasi 96 detik itu kita bisa menyaksikan betapa hewan-hewan di sekitarnya jelas sekali menerima stimulan dan berperilaku seakan bisa menikmatinya. Lumba-lumba menari di air, jumpalitan. Singa laut mengapresiasi dengan bertepuk tangan.

Sekarang ini memang banyak tempat penampungan satwa yang terkena dampak oleh pandemi. Banyak kebun binatang tutup. Dunia musik pun senasib. Pandemi menyebabkan Herrmann kekurangan penonton. Dengan kampanye tersebut, Herrmann ingin mengumpulkan donasi untuk Kebun Binatang Cologne. Sungguh tidak lazim. Sebab, biasanya, musisi muda itu melakukan perjalanan ke seluruh Eropa dengan pianonya. Herrman  sudah berkeliling ke 18 negara dengan proyeknya "Stadtgeklimper". Di ujung film singkat hasil bidikan Julius Tyson itu, tertulis “Made for minds”. Ya, saya menangkap pesan itu. Semoga Anda juga. "Manusya Mriga Satwa Sewaka".

 

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb28 AISEIWritingChallenge

Friday, 26 February 2021

 

Arkais

Oleh: Erry Yulia Siahaan

Ia seperti ada dan tiada. Berdiam di antara dulu dan kini kala. Mencari tempat di joreng-joreng buku siapa saja. Namun ia pasrah ketika tidak disuka. Ia berlonjak saat dicinta. "Siapakah aku," pikirnya. "Hanya diksi yang  dimakan jaman. Disimpan. Menjadi pajangan. Entah kapan aku kembali dimanjakan."

Saku ia tersenyum di himpitan jari Arnas, Alam, dan sedikit saja lagi. Sebab, lebih banyak yang tak mengerti ketimbang memahami. Hikayat sangat mengenal dirinya. Namun, hikayat telah tiada. Zaman seakan menelannya lumat-lumat. Nyaris tenggelam di serbuan gelombang yang tiba, pergi, dan tiba lagi entah sampai kapan berhenti. 

Ia unik, antik, dan klasik. Cantik. Bertebaran kata-kata cinta untuknya, namun terhitung jari yang datang meminang. Cawak pipinya kentara, saat tahu namanya telah mengisi daftar antre berbagai kreasi. Ia setia menanti dirinya dinamai. Kembali dalam pangkuan literasi. Bumi pertiwi. ***

 

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb26 AISEIWritingChallenge

 

Wednesday, 24 February 2021


Tidur Nyaman

Oleh: Erry Yulia Siahaan

Masih ramai berita tentang banjir. Jadi teringat tahun 1990-an. Tempatnya di salah satu gang di Otista, Cawang, Jakarta. Di sana, adik-adik sepupu tinggal. Kalau musim hujan sudah datang, hati ketar-ketir. Maklum, tempat ini wilayah terkena banjir langganan. Apalagi pada masa itu penataan kota belum seperti sekarang. Tepian Ciliwung belum dirapikan. Pokoknya, kalau musim hujan, sudah bisa dipastikan, daerah ini bakal tergenang. Tidak tanggung-tanggung. Air bisa lebih tinggi dari sepinggang. Pernah sampai ke atap. Bisa dibayangkan bagaimana kesibukan yang diakibatkan.

Yang pertama, mengurus keamanan barang. Yang berat-berat dan tidak mungkin dipindahkan, direlakan. Dibiarkan. Keselamatan diri jauh lebih penting. Jangan sampai terkena setruman. Kalau masih memungkinkan, tumpukan barang dan meja bisa menjadi tempat duduk untuk tidur semalaman. Kalau terlalu parah, lebih baik pindah. Di dekat area itu ada beberapa titik lokasi pengungsian. Ada yang disediakan oleh pemerintah, ada yang atas swadaya masyarakat. Ada yang dalam ruangan dalam gedung. Ada yang berupa tenda darurat. Tapi tetap saja, betapapun keringnya tempat pengungsian, tidur bakalan kurang nyaman dan kurang aman.

Tidak kalah merepotkan adalah pasca banjiir. Lumpur membentuk endapan lengket di lantai. Tembok-tembok kotor dan lembab. Baunya tidak sedap. Bahkan, sampai beberapa hari setelahnya, aroma kurang sedap masih kentara. Selain lumpur, sampah-sampah juga tertinggal di rumah, tak terbawa arus surut. Bisa jadi ada ular. Seperti itulah kisah adik-adik sepupu. Bertahan di rumah kontrakan itu bertahun-tahun, karena dianggap strategis. Yang paling kakak sudah bekerja, membantu membiayai adik-adiknya yang masih  sekolah atau kuliah. Sekarang mereka semua sudah bekerja, menikah, berkeluarga. Sudah mapan. Bisa tidur nyaman. Saya yakin, mereka merasakan apa yang saya rasakan. Tidur nyaman adalah anugerah. Bentuk kasih sayang Tuhan yang cukup sederhana yang seharusnya bisa membuat kita bertelut setiap hari, mengucap syukur. Semoga selalu bisa. Amin. ***

  

 

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb24 AISEIWritingChallenge

 

Monday, 22 February 2021


 Flojamora

Oleh: Erry Yulia Siahaan

Beberapa hari lalu, sebuah pertemuan tak dirancang, terlaksana dengan penuh haru biru. Hari itu kami baru saja usai mengikuti misa 100 hari Opa Tuan, pastor SVD dengan masa imamat lebih dari 65 tahun yang wafat tahun lalu pada usia 93 tahun. Berkat kemajuan teknologi, keluarga besar kami, yang tersebar di mana-mana bisa mengikuti misa tersebut. Ada yang di Flores, Jakarta, Jawa, Timor, dan lainnya. Kalau disingkat bisa menjadi Flojamora, untuk mendekatkan akronimnya dengan singkatan Flobamora, yang sudah lama ada dan dikenal publik sebagai kependekan dari nama-nama pulau besar di NTT.

Usai misa, saudara perempuan kami yang tinggal di Kupang membuat link zoom meeting selekasnya. Kami pun bermunculan satu persatu. Termasuk tanta dan kaka ade yang di pelosok Flores, yang cukup lama tidak bersua. Mengharukan, bisa melihat tanta yang sudah tua, dikelilingi kaka ade. Saya ingat ketika datang ke rumah Tanta, habis panen jagung. Ada satu ruangan besar yang isinya jagung yang menggunung. Pemandangan yang mudah dilihat di rumah-rumah petani saat musim panen. Jagung-jagung itu jelas tidak akan habis dimakan dalam waktu dekat. Sebagaimana biasa, jagung-jagung itu dibuat jagung tite, makanan khas Flores. Jagung direbus sebentar saja dan dalam keadaan panas-panas dipereteli, lalu dipukul pipih serupa emping, dijemur sampai kering. Kita bisa membelinya di pasar-pasar tradisional dalam ukuran cup atau gelas. Jika sedang musim, harganya murah. Jika sedang tidak musim, mahal. Jagung tite masih dirindukan oleh perantau yang jauh dari Flores. Jagung tite dibeli dan dibawa sebagai oleh-oleh, penanda kasih sayang bagi perantau. Mereka akan mengetahui bahwa mereka masih diingat dan dirindukan. Opa-oma dan om-tanta yang sudah tua masih suka memakan penganan yang rada alot itu. Biasanya jagung tite itu dicelupkan di dalam gelas berisi teh, kopi, atau susu panas. Mereka yang masih muda biasanya menggorengnya lalu dicampur dengan kacang tanah atau teri  goreng.

Pertemuan dadakan itu terputus sebentar. Maklum, linknya dibuat dengan kuota terbatas, jadi mesti putus-sambung. Beberapa kali tersambung rasanya belum cukup membayar rasa rindu. Hari sudah malam. Yang di NTT mesti segera tidur, karena besok pagi mesti bekerja, sekolah, ke ladang, dan lainnya. Ada perbedaan waktu satu jam antara kami yang di Jawa dengan mereka yang di sana. Dengan berat, satu persatu wajah yang dirindu mohon ijin meninggalkan perjumpaan itu. Lain kali kita kembali bertemu. Suatu perjumpaan yang tanpa rencana ternyata bisa begitu berarti jika ada rasa kasih sayang yang melandasi. ***

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb22 AISEIWritingChallenge

Sunday, 21 February 2021

Banjir

Oleh: Erry Yulia Siahaan

Sedikit gusar. Padahal tak sabar ingin mendengar kabar. Adik tidak menjawab telepon atau merespon pesan. Ada apa gerangan? Memang sedang hujan. Justru karena itu saya ingin mencaritahu keadaan. Saya biasa berkontak dengan adik-adik di Jakarta. Yang tinggal di daerah UKI-Cawang sering menjadi korban banjir langganan. Jadi, jika telat merespon, saya langsung paham. Mungkin sedang mengamankan barang. Jika tidak ada yang urgent, mereka tidak bakal memegang handphone. Nah, ini adik saya yang lain, yang nomor sembilan. Adik ini rumahnya terbilang aman. Kalau sampai kebanjiran, maka Jakarta berarti sudah tenggelam. Saya menelepon bukan lantaran gamang mereka kebanjiran. Tetapi, biasanya rumah adik kedatangan saudara-saudara yang menjadi korban, yang mau bermalam dan menitipkan sedikit barang, termasuk menitipkan anggota keluarga yang rentan.

Akhirnya, komunikasi terjadi. Oh, ternyata adik sedang berada di Gang Budi. Adik ditelepon untuk datang membantu saudara yang rumahnya tergenang air. Mula-mula barang-barang diangkut bolak-balik ke tempat yang agak tinggi. Sebagian lagi, yang rada ringan, dibawa ke rumah ungsi, yang bebas banjir. Mereka masih saudara. Satu keluarga besar, orangtua, anak, menantu, cucu, pembantu, tinggal di rumah-rumah berdekatan tapi beda lokasi. Ada yang kebanjiran, ada yang aman. Jika banjir langganan datang, yang rumahnya rawan biasa pindah ke rumah yang aman. Karena kurang orang, mereka meminta bantuan. Kebetulan, di rumah adik sedang  tidak ada korban yang datang untuk menumpang. Mudah-mudahan itu karena mereka sudah mendapatkan tempat yang nyaman. Meskipun demikian, orang di rumah adik, tetap berjaga, siap memberikan bantuan.

Seperti itulah cerita rutin di tahun-tahun kala banjir langganan datang. Keluarga saling memantau dan  memberikan dukungan. Hati inipun tenang setelah menerima penjelasan. Semoga banjir lekas terselesaikan. Masyarakat yang menjadi korban bisa kembali normal berkegiatan. Terlebih saat ujian nanti, jangan sampai ada lagi siswa yang mohon ijin pulang di tengah try out atau ujian lantaran tahu mendadak datang hujan dan emak-nya di rumah sendirian, tentu butuh bantuan. Bagaimana kita tidak patut  bersyukur kalau masih bisa membaringkan badan di tempat kering dan nyaman. ***

#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb20 AISEIWritingChallenge

 

Thursday, 18 February 2021


 Snooker

 Oleh: Erry Yulia Siahaan

 

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Break_(2020_film)

Ini adalah kisah rekaan yang difilmkan tentang seorang pemuda bernama Spencer Pryde (Sam Gittins), seorang pemain snooker berbakat yang menyia-nyiakan kelebihannya dengan memilih terlibat dalam kejahatan kecil bersama teman-temannya. Dia menghabiskan banyak waktu dengan bergaul di tempat snooker, atau duduk-duduk sambil minum dan menghisap ganja, melakukan tindakan kriminal kecil terkait narkoba. Teman baiknya baru saja tewas ditusuk oleh preman yang bekerja pada bandar obat.  Ayahnya, yang juga dikenal sebagai pemain snooker berbakat, baru keluar penjara dan mengidap penyakit serius, yang tidak diceritakannya kepada Spencer sampai menjelang ajalnya. Mengetahui usianya tidak lama lagi, ayahnya jauh-jauh hari (selagi masih di penjara) merencanakan sesuatu untuk masa depan Spencer. Yakni dengan mencarikan bimbingan privat untuk melatih kemampuan snookernya. Dia menghubungi ahli yang dikenalnya dan sekeluar dari penjara rencana itu mulai diwujudkan.

Snooker lazim dikenal dengan biliar. Waktu kecil, Spencer sudah membuat kagum banyak orang, khususnya ayahnya, karena dia sudah menunjukkan bakar luar biasa. Namun pergaulan dan lingkungan membuatnya terjebak dalam pertemanan yang kurang baik. Bahkan, Spencer berhutang uang cukup banyak pada penjudi yang berisiko mengancam nyawanya. Hubungan Spencer dengan ayahnya juga kurang harmonis, meskipun ayahnya selalu berusaha menunjukkan kesungguhan untuk merubah kekakuan itu ke arah yang harmonis untuk kepentingan Spencer. Masa-masa awal latihan, termasuk uji coba tanding dengan anak binaan lain, kurang mulus berjalan. Namun, Spencer bangkit kembali.

Demikianlah, pada kompetisi internasional yang direncanakan sejak awal, Spencer menang, meskipun di saat-saat akhir menuju kemenangan itu ayahnya kritis dan akhirnya meninggal. Spencer selanjutnya meniti karir sebagai pemain snooker profesional dan melakukan banyak tur. Masalah finansial terselesaikan. Kisah Spencer dalam film Break ini meninggalkan banyak pesan moral. Pertama, jangan takut gagal. Kedua, jangan karena takut gagal malah sengaja mengacau (berulah) agar memiliki alasan ketika kalah. Ketiga, jangan cuma diam saja. Orang lain sudah keliling dunia, sementara kita tetap saja di tempat semula, tidak menjadi apa-apa atau siapa-siapa. setiap orang di dunia setidaknya lahir dengan satu bakat, namun banyak yang tidak menyadari atau malah mengabaikan. Bahwa kita miskin, jangan itu dijadikan alasan tidak mengembangkan diri, karena faktor utama adalah diri kita sendiri. Dalam dan bermakna sekali. ***

 #thepowerofkepepet

#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#Feb18 AISEIWritingChallenge

 

 

 

3 Cara Membangun Ikatan Erat dengan Anak, Orangtua Mesti Tahu

Ikatan erat antara orangtua dan anak berpengaruh besar dalam optimalisasi kesejahteraan anak. Hubungan itu bisa dibangun lewat komunikasi ...